Senin, 22 April 2013

APAKAH ASPARTAM MERUPAKAN ZAT BERBAHAYA?









Pernahkah Anda mendengar kata aspartam? Mungkin masih agak asing di telinga, tetapi tahukah bahwa asparatam adalah salah satu dari pemanis buatan yang telah dipakai secara luas, selain jenis pemanis kimia lain seperti sakarin dan siklamat.

Aspartam memiliki rasa yang lebih manis 180-200 kali dari gula yang biasa.Tak heran apabila pemanis ini banyak sekali dipakai dalam berbagai macam produk, baik makanan maupun minuman.
Aspartam merupakan pemanis sintetis non-karbohidrat, aspartyl-phenylalanine-1-methyl ester, atau merupakan bentuk metil ester dari dipeptida dua asam amino yaitu asam amino asam aspartat dan asam amino essensial fenilalanina.


Aspartam dijual dengan nama dagang komersial seperti Equal, nutrasweet dan Canderel dan telah digunakan di hampir 6.000 produk makanan dan minuman di seluruh dunia. Terutama digunakan di minuman soda dan permen.

Serba-serbi aspartam
Aspartam merupakan produk bubuk kristal yang tidak berbau dan berwarna putih serta kestabilannya sangatlah bergantung pada waktu, temperatur, pH, dan aktivitas air. Aspartam sangat stabil apabila dalam keadaan kering, tetapi pada temperatur 30 hingga 80 derajat celsius (dipanaskan, disterilisasi,dan lain-lain) maka aspartam akan kehilangan rasa manisnya. Oleh karena itu, pada makanan yang hanya sedikit atau cukup mengandung airlah maka rasa manis aspartam akan tetap bertahan, aspartam sendiri sangat baik untuk produk yang disimpan dalam pendingin atau dalam keadaan beku.

Berdasarkan penelitian, aspartam sebenarnya mengandung dua komponen natural yang sering terdapat di makanan pada umumnya, yaitu asam aspartik dan fenilalanin. Dua komponen ini sering terdapat pada produk alami yang beredar di masyarakat. Dalam makanan yang mengandung protein, contohnya daging, gandum, dan produk yang berasal dari susu. Selain itu, komponen ini juga sering terdapat pada beberapa jenis buah dan sayuran.

Aspartam ditemukan pada 1965 oleh seorang ahli kimia dan disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) pada 1974. Akan tetapi, izin pemasaran aspartam dicabut beberapa bulan kemudian karena adanya sebuah pengaduan bahwa bahan ini berbahaya dan merupakan bahan karsinogenik penyebab kanker sehingga perlu dievaluasi lebih lanjut. Oleh karena itu, dilakukanlah penelitian lebih lanjut mengenai aspartam sehingga tercapailah sebuah hasil yang memuaskan pihak FDA.

Pada 1981, FDA menyatakan aspartam tidak berbahaya apabila dikonsumsi secukupnya serta diberikan dengan batas pengonsumsian sehari-hari untuk penggunaan pada bahan makanan padat. Lalu, perizinan penggunaan aspartam sebagai tambahan dalam minuman soft drink menyusul pada 1983 dan akhirnya pada 1996 dinyatakan sebagai bahan pengganti pemanis buatan yang dapat digunakan secara umum.

Keamanan penggunaan aspartam telah diteliti dan diakui oleh banyak organisasi nasional dan internasional, termasuk FAO/WHO Commitee of Experts on Food Additives (JEFCA) dan disetujui oleh badan parlemen Eropa untuk digunakan sebagai pemanis buatan di bahan makanan pada 30 Juni 1994.

Bahkan, di Perancis telah disetujui sejak 1988. Nilai ambang batas/acceptable daily intake (ADI) yang telah disetujui oleh JEFCA adalah 40 mg/kgBB/hari yang apabila dikonversikan sebanyak 18-19 kaleng diet cola pada individu yang mempunyai berat badan 68 kg karena produk diet cola mengandung aspartam yang sangat sedikit.

Berdasarkan percobaan oleh Karim dkk dan Stegink dkk pada 1996, metabolisme aspartam terjadi pada saluran pencernaan menjadi komponen metanol sebanyak lebih kurang 10 persen, 40 persen asam aspartik dan 50 persen fenilalanin. Sedangkan pada penelitian Creppy dkk pada 1998 menyatakan, hanya sebagian kecil saja aspartam yang mungkin diserap tanpa dimetabolisasi. Akan tetapi, hal ini masih perlu dikonfirmasikan.

Kontroversi aspartam
Meski penggunaannya telah mendunia dan telah disetujui oleh WHO, bukan berarti aspartam langsung bisa diterima oleh masyarakat. Banyak kontroversi muncul dikarenakan adanya penelitian mengenai produk aspartam dengan beragam hasil yang berbeda.

Pada 1996, sebuah artikel yang dikemukakan oleh JW Olney menyatakan adanya kemungkinan bahwa aspartam menyebabkan peningkatan insiden dari tumor otak sehingga menimbulkan perdebatan di berbagai media.

Pada tahun yang sama, badan-badan kesehatan di berbagai belahan dunia telah memberikan reaksi dengan menyatakan pada publik bahwa berbagai macam penelitian telah dilakukan. Sejumlah penelitian lain masih berlangsung untuk mendapatkan bukti sains yang mendukung.

Sementara itu, bukti dari penelitian yang dilakukan oleh FDA FR (1981-1984), Koestner dan Cornell dkk pada 1984 serta yang dilakukan Flamm (1997) membantah pernyataan tersebut dengan menyatakan bahwa tidak ada potensi karsinogenik yang menyebabkan kanker pada pemakaian aspartam di tikus percobaan.

Perdebatan mengenai hasil penelitian Olney juga dikemukakan oleh para peneliti lain, termasuk Levy dkk pada tahun 1996 yang menyatakan bahwa jika pengumpulan data mengenai insiden tumor otak dan pemakaian aspartam dikumpulkan dari 1973 hingga 1992, hasil penelitian Olney tidak relevan, karena Levy mendapatkan hasil bahwa insiden tumor otak meningkat bukan karena mengkonsumsi aspartam.

Pendapat serupa dinyatakan oleh penelitian Lim dkk yang mengikuti perjalanan 285.079 pria dan 1888.905 wanita pengonsumsi aspartam, baik di dalam minuman mereka saat dingin maupun panas sejak 1995 hingga 2000, hasil penelitian ini mendapati bahwa tidak ada kaitannya dengan risiko kanker otak dan kelainan pembentukan darah. Studi ini dipublikasikan di jurnal Cancer epidemiology Biomarkers and Prevention pada 2006.

Salah satu penelitian terbaru pada 2008 yang membantah bahwa aspartam menyebabkan kanker adalah penelitian dari Magnuson dan Williams yang disponsori oleh Burdock Group. Ini adalah sebuah badan peneliti independen yang di-support secara finansial oleh perusahaan Ajinomoto, salah satu produsen Aspartam. Bahkan pada 2009, salah satu penelitian yang disokong oleh Italian Association for Cancer Research dan The Italian League Against Cancer menyatakan bahwa tidak terbukti bahwa aspartam menyebabkan kanker lambung, pankreas, dan lapisan rahim (endometrium).

Memang, penggunaan aspartam yang masih menjadi kontroversi  tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi terjadi juga di Amerika dan sejumlah negara lainnya. Akan tetapi, sejauh ini FDA dan beberapa organisasi kesehatan lainnya masih menyatakan aman untuk dikonsumsi berdasarkan banyaknya penelitian yang dilakukan di berbagai belahan dunia dari masa ke masa.

Untuk itu, pertanyaan apakah aspartam memang aman untuk dikonsumsi? Kita kembalikan lagi kepada individu masing-masing untuk menjawabnya. Karena meski badan kesehatan dunia sudah menyatakan aman, apabila seorang individu merasa tidak nyaman untuk mengonsumsi, maka keputusan terakhir berada di tangan sang pengonsumsi.
 

Rabu, 06 Februari 2013

Pola kerjasama di SEAFAST Center


Seafast center bekerja sama dangan Texas A&M Unersity (TAMU) yang bertujuan untuk mengembangkan pangan di wilayah Asia Tenggara. Dalam pertemuan dalam rangka pengembangan dan penyusunan program Global Food Security pihak  Norman Borlaug, USDA dan Texas A&M secara terbuka dan bangga menyatakan bahwa pendirian The Southeast Asian Food & Agriculture Science and Technology (SEAFAST Center) sebagai salah satu bagian dari Global Food Security Program,  merupakan progam kerjasama Internasional yang tersukses yang pernah mereka miliki, sehingga dapat dijadikan Raw Model dan Show Case program untuk dikembangkan lebih lanjut di berbagai negara  lain di dunia.  Program ini bukan saja dinilai sukses bukan hanya karena program-programnya mendukung secara nyata Global Food Security Program, akan tetapi secara spesific dinilai bahwa program ini berkelanjutan.
SEAFAST Center merupakan kerjasama Internasioanal yang dijalin oleh IPB yang merupakan salah satu Perguruan Tinggi Pertanian terkemuka di Indonesia dengan Texas A&M University (TAMU).  Kerjasama ini antara lain memfasilitasi :
Ø  Pengembangan Sektor swasta
Ø  Keamanan pangan
Ø  Perbaikan kesehatan dan nutrisi melalui penelitian
Ø  Pemasaran dan pendistribusian makanan yang telah ditambah nilainya
Disamping itu SEAFAST Center juga merupakan  model mutakhir untuk pendidikan jarak jauh bagai dosen dan mahasiswa.
SEAFAST diinisiasi  dengan menggunakan hasil penjualan Non Fat Dairy Milk (NFDM) yang didonasikan kepada TAMU pada tahun 2005  berdasarkan Section 416(b)  USDA untuk program Bantuan Pangan.   NFDM selanjutnya diproses menjadi susu cair yang sebagian diantaranya didistribusikan ke berbagai Sekolah dasar sebagai program subsidi Susu Sekolah oleh beberapa  Industri  pengolahan Susu Indonesia.  Program ini meliputi juga pendirian bangunan kelas dan pekuliahan, laboratorium, dan pendidikan jarak jauh di IPB.
Dalam perjalannya proyek ini berkembang dari bantuan pangan menjadi pengembangan infrastruktur untuk melakukan berbagai penelitian yang berhubungan dengan pangan, teknologi transfer ke sektor swasta dan pendidikan bagi mahasiswa dan staf pengajar.
Selain itu sefast center juga bekerja sama dengan industri-industri makanan skala besar di wilayah Indonesia seperti Garuda Food,Boga Sari Bakery,dsb.
Pusat SEAFAST IPB secara aktif terlibat dalam kemitraan bersama banyak dengan industri makanan; pemerintah dan organisasi non-pemerintah. Beberapa contoh utama kemitraan adalah:
* Bantuan teknis, konsultasi dan / atau pemecahan masalah
* Pengembangan produk
* Pengolahan pembangunan
* Pilot tanaman percobaan
* Analytical layanan
* Pemasaran dan bantuan rencana bisnis
* Standar dan informasi peraturan
* Pelatihan

Pola Pemasaran Jasa dan Produk


Pola pemasaran jasa
Karena SEAFAST Center merupakan Pusat Ilmu dan Teknologi Pangan dan Pertanian Asia Tenggara maka SEAFAST Center sering melayani kegiatan jasa laboratorium (disini khususnya pada jasapengembangan produk). Adapun prosedur yang harus dilalui untuk setiap sempel yang masuk adalah sebagai berikut :
1.      konsumen menyerahkan sampel yang akan diperiksa kepada petugas penerima contoh.
2.      kemudian sempel diperiksa oleh manager teknik untuk dikaji ulang jika disetujui maka konsumen melengkapi administrasi yang ada kepada petugas penerima contoh dan bagian administrasi.
3.      Petugas penerima sampel melakukan pendataan sampel (penanganan dan pengkodean sempel) kemudian sampel yang telah dikodekan diserahkan kepada supervisor analisis.
4.      Supervisor analisis mendistribusikan kepada analisis laboratorium untuk diuji sesuai dengan analisa yang diminta konsumen.
5.      Setelah analisis selesai hasil akan dilaporkan kepada supervisor analisis yang kemudian diserahkan ke manager teknik untuk diperiksa dan disetujui.
6.      Hasil analisis yang telah disahkan kemudian dinyatakan dalam bentuk sertifikat yang ditandatangani oleh meneger teknik.
7.      Dilanjutkan pengiriman kepada konsumen dan penyelesaian administrasi yang ditangani oleh petugas penerima contoh dan bagian administrasi.


Pola pemasaran produk
Pemasaran  produk atau jasa ditempat PI dilakukan dengan sistem penjualan dan strategi yang digunakan yaitu dengan menjual produk yang dihasilkan di outlet-outlet yang berada dibawah binaan SEAFAST CENTER ataupun IPB yang memiliki posisi strategis seperti:
·        Serambi (di Botani Square Mall)
·        Agrimart
·        Praktek dokter
·        Rumah sakit
·        BreAD unit
·        Direct selling
Suplai produksi masih menyesuaikan permintaan (permohonan) pembeli, demand cukup tinggi. Serta masih sering melakukan pameran dan pesanan dalam rangka sosialisasi serta dengan tujuan untuk mencari UKM yang tertarik memproduksi dan memasarkan.
Program sosialiasi informasi yang efektif untuk kegiatan marketing jasa  melalui program pelatihan dan demo singkat. SEAFAST Center berupaya untuk menjadi pusat pendidikan dan pelatihan pengolahan hasil pertanian dan pangan.
Selain itu, para pengunjung ditawarkan untuk melakukan pelatihan lengkap membuat produk hasil pertanian dan pangan yang telah dikembangkan SEAFAST Center, misalnya pembuatan sari buah, susu kedelai, mie jagung, dll. di laboratorium dan pilot plant SEAFAST Center

BIRD